SYDNEY, 23 Juni, 2026 /PRNewswire/ -- James Pinch, Managing Director, KuCoin in Australia, menjadi pembicara dalam ajang Digital Economy Conference (DECON) 2026 di Sydney. Dalam sesi diskusi bertajuk "From Programmable Money to Everyday Commerce: Unlocking the Next Payment Era", Pinch berdialog dengan Vice President, Mastercard Australia, Ashima Chaudhary. Dipandu oleh Head, Account Management Banking Circle, Yasmine Amani, sesi ini membahas konvergensi mata uang fiat, kartu pembayaran, stablecoin, serta aset digital melalui infrastruktur pembayaran multikanal yang mendukung babak baru dalam sektor perdagangan global.
Mewakili KuCoin, Pinch menjelaskan, peran bursa kripto kini berkembang melampaui fungsinya sebagai platform trading. Bursa kripto mulai bertransformasi menjadi penyedia infrastruktur yang menghubungkan likuiditas, layanan pembayaran, dan stablecoin dengan berbagai kebutuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berbekal pengalaman selama hampir dua dekade di sektor jasa keuangan dan aset digital, Pinch menilai pendekatan KuCoin di Australia mencerminkan strategi global yang lebih luas, yakni membangun bisnis secara bertanggung jawab di tengah perkembangan regulasi, serta menyesuaikan produk global KuCoin dengan ketentuan perizinan, kepatuhan regulasi, dan standar operasional di setiap negara.
Pinch juga menyoroti peluncuran KuCard di Australia sebagai bagian dari perkembangan adopsi aset digital. Bagi pengguna yang memenuhi persyaratan, KuCard memfasilitasi penggunaan aset kripto secara lebih praktis untuk kebutuhan transaksi sehari-hari melalui jaringan global Mastercard. Dengan demikian, pengguna dapat bertransaksi melalui metode yang familier dan memanfaatkan aset digital untuk membayar kebutuhan sehari-hari.
"Aset kripto tidak akan berkembang jika hanya berfungsi sebagai instrumen investasi. Untuk itu, kripto harus mampu menjawab kebutuhan nyata, termasuk sebagai metode pembayaran. Kami ingin membangun sebuah ekosistem agar masyarakat tidak lagi sibuk membicarakan teknologinya, melainkan langsung menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti membeli kopi atau membayar tagihan, seperti saat menggunakan kartu pembayaran yang diterbitkan bank," ujar Pinch.
Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya sejumlah aspek, seperti kepercayaan, kepatuhan regulasi, keamanan, dan perlindungan konsumen sebagai fondasi utama bagi adopsi aset digital secara lebih luas. Menurut Pinch, aset digital yang kini semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global membutuhkan sistem tata kelola yang kuat, keterlibatan aktif dengan regulator, serta infrastruktur yang andal untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Ia juga menegaskan bahwa KuCoin terus berinvestasi pada sumber daya manusia yang menguasai keahlian tinggi di bidang keamanan siber dan pengembangan infrastruktur. Menurutnya, perlindungan pengguna dan daya tahan sistem harus tetap menjadi prioritas utama bagi platform berskala besar, seperti KuCoin.
Ke depan, Pinch meyakini kecerdasan buatan (AI) akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan masa depan keuangan digital, terutama ketika aktivitas bisnis, pembayaran, dan pengambilan keputusan keuangan semakin terotomatisasi. Ia turut memaparkan investasi KuCoin dalam berbagai inisiatif AI yang berfokus pada ekosistem kripto. "Saat ini, siapa pun dapat membeli nama domain, membangun situs web, dan menemukan pemasok untuk menjalankan bisnis e-commerce. Namun, tantangan mulai muncul pada aspek pembayaran dalam proses otomatisasi tersebut. Sistem perbankan fiat masih sulit diotomatisasi sepenuhnya, karena melibatkan berbagai keterlambatan dan tantangan operasional lainnya. Dalam konteks ini, KuCoin memiliki peran unik dalam mendukung penerapan teknologi yang bersifat disruptif," jelas Pinch. Menurutnya, KuCoin tengah mengembangkan berbagai sistem yang memudahkan pengguna, pihak pengembang, maupun agen berbasis AI untuk mengakses data pasar, data on-chain, serta berbagai kapabilitas aset digital.
Pinch menutup sesi diskusi dengan menyatakan bahwa dalam tiga hingga lima tahun ke depan, metode pembayaran berbasis aset kripto semakin tidak terlihat sebagai sebuah teknologi, serta lebih diterima sebagai pola keuangan yang alami, dan KuCard menjadi salah satu pendorong di balik perubahan tersebut. "Ke depan, banyak orang kemungkinan tidak lagi terlalu memikirkan teknologi di balik KuCard. Sama seperti saat memakai kartu pembayaran biasa, orang tidak lagi memperhatikan bank mana atau jaringan apa yang digunakan. Mereka cukup membeli kopi, membayar tagihan, atau bertransaksi seperti biasa. Hal serupa juga akan terjadi pada metode pembayaran kripto—kelak, semakin terasa lazim dan digunakan tanpa banyak dipikirkan," kata Pinch.
Tentang KuCoin
Berdiri pada 2017, KuCoin merupakan platform kripto terkemuka di dunia yang telah meraih kepercayaan lebih dari 40 juta pengguna di lebih dari 200 negara dan wilayah. Dikenal atas keandalan dan pendekatan yang berfokus pada pengguna, KuCoin memadukan teknologi mutakhir, likuiditas yang kuat, serta sistem keamanan yang ketat untuk menghadirkan pengalaman trading yang lancar. KuCoin menyediakan akses ke lebih dari 1.500 aset digital melalui berbagai produk, serta berkomitmen membangun infrastruktur aset digital yang transparan, mematuhi regulasi, dan berorientasi pada pengguna untuk masa depan keuangan dengan dukungan sertifikasi SOC 2 Type II, ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 27701:2019. Dalam beberapa tahun terakhir, KuCoin telah membangun fondasi kepatuhan regulasi global, termasuk meraih izin AUSTRAC di Australia, lisensi MiCA di Eropa, serta izin usaha lain di berbagai pasar.
Informasi selengkapnya: www.kucoin.com
SOURCE KuCoin
Bagikan artikel ini